Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

Banjir Bandang Terjang 3 Desa di Lamongan

Buku Catatan Media - Lamongan - Curah hujan yang tinggi serta naiknya debit air di sudetan Bengawan Solo menyebabkan 3 desa di Kecamatan Brondong diterjang banjir bandang, Jumat (21/2/2014) dini hari tadi. Ratusan rumah di 3 desa tersebut kini terendam banjir.

Informasi yang dihimpun detikcom dari BPBD Lamongan menyebutkan, 3 desa di Kecamatan Brondong yang terkena banjir bandang tersebut diantaranya adalah Kelurahan Blimbing, Kelurahan Brondong dan Desa Sedayulawas.

Di 3 desa ini setidaknya ratusan rumah terendam banjir, diantaranya Kelurahan Blimbing sebanyak 200 rumah, Kelurahan Brondong sebanyak 500 rumah dan di Desa Sedayu Lawas sebanyak 200 unit rumah.

Kepala BPBD Lamongan, Suprapto kepada wartawan membenarkan banjir bandang yang melanda 3 desa di Kecamatan Brondong tersebut. Suprapto mengatakan, banjir bandang di 3 desa ini akibat tinggi curah hujan di sekitar Brondong yang disertai dengan naiknya debit air dari sudetan Bengawan Solo yang berada di kawasan ini.

"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian banjir bandang ini," jelasnya.

Kondisi saat ini menurut Suprapto, sudah surut dan tidak ada kerugian material. BPBD Lamongan, kata Suprapto, bersama Pol Airud serta kepala desa sudah ke lokasi banjir bandang tersebut dan melakukan pendataan.

"Banjir bandang sudah surut dan kami pagi ini akan ke lokasi untuk memberikan bantuan," pungkasnya.

Rabu, 17 April 2013

Menyongsong Generasi Islami di Perlombaan ABATASA II (PPI Al-Izzah)

Suasana tidak biasa terjadi di PonPes Al Izzah sabtu (06/4) lalu. Pesantren kecil yang terletak di dusun Tragal, Kedungpapar, Sumobito, Jombang ini dipadati oleh ratusan anak seumuran SD dari berbagai TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di kabupaten Jombang. ada apa gerangan...?

MENYONGSONG GENERASI ISLAMI DI PERLOMBAAN ABATASA



Suasana tidak biasa terjadi di PonPes Al Izzah sabtu (06/4) lalu. Pesantren kecil yang terletak di dusun Tragal, Kedungpapar, Sumobito, Jombang ini dipadati oleh ratusan anak seumuran SD dari berbagai TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di kabupaten Jombang.
Anak-anak yang mewakili TPA masing-masing ini sedang mengikuti acara perlombaan ABATASA (Ajang Berkreasi dan Berprestasi Santri TPA). Yaitu acara perlombaan bertemakan Islam antar TPA. Di tahun kedua ini, panitia perlombaan mengambil tema “menggali potensi dengan kreasi islami, menyongsong generasi islami“ yang diharapkan, dengan adanya acara perlombaan semacam ini, potensi dan kreasi para santri TPA dapat terwarnai oleh islam. Sehingga gempuran pengeroposan moral yang kini tengah dilanda anak- anak di negeri ini bisa diredam. Generasi Islami yang banyak didamba para orang tua pun bermunculan.
Acara perlombaan ABATASA berlangsung selama dua hari. Hari pertama pada sabtu (06/4) sore. Ada empat kategori perlombaan yang dilombakan; lomba mewarnai, menggambar, lari islami, dan CCI (Cerdas Cermat Islami). Kawasan pesantren yang sempit pun harus dibagi-bagi untuk tempat perlombaan.

Hari kedua tak kalah meriahnya, panggung megah dengan hiasan khas anak- anak serta sejumlah tropi yang diperebutkan dalam acara perlombaan begitu tertata rapi menyambut para kontingen memasuki kawasan pesantren. Ada beberapa kategori perlombaan yang dilombakan di hari Ahad (07/4), yang kesemua lomba itu mengharuskan peserta tampil di atas panggung. Diantaranya lomba pidato, baca puisi, serta tartil.
Bagi masyarakat sekitar pesantren, perlombaan ABATASA yang diadakan oleh IMT bagian Dakwah ini membawa berkah tersendiri. Ketika acara berlangsung, tak sedikit warga yang menggelar aneka jajanan dan souvenir khas anak-anak untuk dijual. Jejualan dadakan ini pun menjadi “tontonan” menarik tersendiri bagi anak-anak yang merasa bosan melihat para peserta lomba, warga pun menuai untung darinya.
“Dengan adanya acara ini, nama dusun Tragal lebih dikenal oleh daerah-daerah tetangga.“ Ujar salah seorang warga yang begitu antusias mendukung perlombaan ABATASA.
Saking semangatnya menyambut ABATASA, bahkan salah seorang wali santri yang putranya turut ambil bagian dalam perlombaan berkomentar, “Seharusnya ABATASA tidak hanya diadakan setahun sekali. Kalau bisa, setahun dua kali atau setiap bulan sekali.” Ujarnya dengan senyum yang mengembang.
Acara ABATASA seakan menjadi oase di padang tandus. Saat ini memang tengah terjadi kemiskinan moral yang memprihatinkan. Acara perlombaan keislaman semacam ini jarang bahkan tidak pernah diadakan. Kalaupun ada, itu hanya empat hingga lima tahun sekali. Untuk itu, ABATASA datang dengan konsep lama yang disederhanakan; kalah menang bukanlah tujuan utamanya. Ini terbukti dari salah satu peraturan yang tercantumkan, yaitu peserta juara pertama pada ABATASA sebelumnya tidak diperkenakan mengikuti kategori lomba yang sama tahun ini. Tentu hal ini ditujukan untuk menekan ambisi mengeruk gelar juara.
Tahun kedua adalah tahun bayi. Tentunya kekurangan ABATASA banyak ditemukan disana-sini. Usaha untuk terus memperbaiki pun harus terus digiati. Agar tujuan utamanya terlampaui, yaitu menyongsong generasi Islami.


Followers

Silahkan mengambil artikel yang ada di blog ini asal mencantumkan sumbernya.BUKU CATATAN MEDIA. Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 BUKU CATATAN MEDIA. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top