Senin, 12 Agustus 2013

7 Lafal Khas Desa Sedayulawas Yang Sulit Ditemukan Di Daerah Lain

Senin, Agustus 12, 2013




Desa Sedayulawas menyimpan banyak keunikan untuk digali. Kali ini, tim nasrulzone berhasil menghimpun lafal-lafal khas yang ada di desa Sedayulawas untuk disajikan kepada kamu-kamu SedayulawasLovers. Well, langsung aja simak yuk.
1.       Megilan (ungkapan sangat)
Selain ungkapan yang dilebay alaykan semacam: elek, menjadi: uelek. Yang berarti sangat atau berlebihan. Yang biasanya digunakan pada kata sifat. Di desa Sedayulawas juga memiliki ungkapan tersendiri yang berarti berlebihan. Ungkapan tersebut adalah “Megilan”. Di dalam kamus bahasa manapun, kata ini tidak didapatkan. Mungkin pakar budaya Sedayulawas kali ya yang harus membuat kamus resmi bahasa danbudaya Sedayulawas. Hehehe…
PendudukSedayulawas sendiri mengartikan kata ini layaknya kata “Banget” dalam bahasa Indonesia. Ataupun ungkapan yang tidak memiliki arti dalam bahasa Indonesia, namun bermaksud sama dengan kata “Banget” atau “Sekali”. Selain itu, kata ini juga sering disejajarkan dengan kata lain sehingga menjadi ungkapan khas Sedayulawas. Seperti, “Lha gak megilan…!”.
Ada lagi ungkapan yang bermakna melebih-lebihkan, yaitu “Cuah”. Dalam pengucapannya terdapat penekanan nada pada huruf “U”. Namun, sepanjang pengamatan penulis, ungkapan ini juga bias ditemukan di daerah-daerah lain.

2.       Parek (dekat)
Parek adalah kata khas yang sering diungkapkan oleh penduduk desa Sedayulawas untuk menunjukkan jarak dekat. Di daerah lain menggunakan kata “Cedak” untuk menunjukkan maksud yang sama. Para pendatang, ataupun orang yang bukan asli penduduk Sedayulawas biasanya masih menggunakan “Cedak” dalam percakapan kesehariannya, meskipun tak jarang mereka juga menggunakan kata “Parek”, karena telah ada asimilasi budaya di dalamnya.
Arti kata “Parek” adalah “Dekat”.

3.       Pelas (daerah lain: gimbal jagung)
Pelas mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat Sedayulawas. Yaitu sebuah makanan khas berupa tumbukan jagung muda dengan campuran bumbu-bumbu tertentu kemudian digoreng. Jajanan ini mudah ditemukan di sepanjang jalan di desa Sedayulawas. Di tempat lain, jajanan ini biasanya disebut dengan “Gimbal Jagung” atau juga “Dadar Jagung”. Namun, di Sedayulawas Pelasnya cukup khas, karena terdapat udang di dalamnya. Maka tak salah, terdapat celetukan “Ada udang dibalik Pelas.”

4.       Riyo-riyo (lebaran)
Orang nonSedayulawas biasanya tertawa geli mendengar orang Sedayulawas menyebut hari raya Idhul Fitri atau lebaran mereka. Karena tidak pada umumnya, masyarakat Sedayulawas menyebut hari lebaran dengan “Riyo-riyo”. Pengulangan dua kata “Riyo”. Tidak seperti di daerah lain yang biasanya menyebut dengan istilah “Riyoyo”, yaitu dengan pengulangan suku kata “Yo” sebanyak dua kali. Ataupun “Bodo”, di daerah lainnya.

5.       Cong (panggilan untuk anak laki-laki)
Tidak hanya di desa Sedayulawas, kata panggilan untuk anak laki-laki “Cong” juga dipakai di daerah lainnya. Setahu penulis, daerah Lamongan utara, Tuban, juga sebagian Bojonegoro juga menggunakan kata panggilan ini. Entah kebetulan atau apa, kata panggilan ini juga digunakan penduduk Madura dalam panggilan kepada anak-anak laki-laki di sana.

6.       Banget (untuk suara keras)
Kalau di daerah lain menyebut suara yang terlalu keras dengan sebutan “Banter”, maka masyarakat Sedayulawas mempunyai kata sendiri, yaitu “Banget”. Dalam bahasa Indonesia berarti suara yang keras, memekakkan telinga atau kata sifat yang khusus diperuntukkan untuk suara.

7.       Ndolok (berhenti)
Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia, kata “Ndolok” mendekati makna “Berhenti”. Namun dalam penggunaannya di keseharian, “Ndolok” tidak bias diartikan berhenti. Penduduk Sedayulawas mengartikan kata ini dengan “berhenti dalam melakukan aktifitas” atau “berdiam dari melakukan aktifitas”. Di daerah lain, kata ini mendekati kata “Meneng” (dalam aktifitas) atau “Mandek” (berhenti).
Di desaSedayulawas, kata “Mandek” juga dipakai. Karena antara “Mandek” dan “Ndolok” mempunyai penempatan penggunaan tersendiri.
Itu tadi tujuh lafal di desa Sedayulawas yang berhasil dihimpun tim nasrulzone untuk kamu-kamu yang ingin tahu budaya Sedayulawas lebih lanjut. So, kamu pun mesti bangga jadi orang Sedayulawas dengan budayanya yang unik ini.
Akhirnya, setiap daerah mempunyai hal-hal yang khas masing-masing. Tergantung kita bagaimana menyikapi budaya khas setiap daerah itu. Peribahasa mengatakan, Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

1 komentar:

 

© 2013 BUKU CATATAN MEDIA. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top