Jumat, 14 September 2012
Puisi Superku Untukmu
saat kugoreskan pena ini
tuk ungkapkan semua isi hati
aku teringat sesuatu
sesuatu yang keluar dari mulutmu
"aku ingin fokus belajar"
sejenak kuhentikan goresan ini
pikiranku terbang jauh melayang
aku malu pada diriku sendiri
aku yang tidak berdaya
kau anggap sebagai sosok yang luar biasa
kau kagumi orang kerdil sepertiku
yang tak bisa berbuat apa-apa
hanya bisa bermimpi dan bermimpi
memang...
sengaja kuhembuskan mimpi itu kepadamu
agar kau tahu
betapa panjangnya jalur kehidupan ini
ku minta kau terus melangkah
namun kusendiri terdiam
aku tidak bisa berbuat apa-apa
kamulah segalanya
kamu yang bergerak yang hendak menggapai citamu
teruslah bergerak meski ku tak ada disisimu
aku tahu kau bisa... dan kutahu kau mampu
aku bukanlah seperti yang kau kira
aku pecundang
yang bisa memberimu mimpi
sedangkan kau...
pemenang segalanya
kau tegar meski perasaanmu berkecamuk
kau tabah meski masa itu menghantuimu
kau sabar meski kekecewaan itu menerpamu
kaulah pemenang segalanya
teruslah jadi pemenang
you are a winner
be the winner forever
for me...
and for everybody
to get your dream
to get your hope
to get your need
aku senang ketika melihat kau tersenyum
aku bahagia saat kau juga bahagia
sejenak kubisa bernafas lega
saat kubisa membuatmu bahagia
meski tidak seberapa lama
walau hanya sekejap saja
maafkan aku...
atas kebahagiaan sejenak yang hanya bisa kuberikan padamu
tak lain dan tak bukan
kuhanya ingin membuatmu tersenyum
sejenak melupakan masa suram itu
masa-masa yang kau lalui dengannya
biarlah masa itu menjadi masa lalumu
aku tahu...
aku tidak bisa menghapusnya dari memorimu
aku tahu...
tentu masa itu sangat lekat diingatanmu
aku pun tahu...
masa lalu bukanlah masa yang bisa dihapus begitu saja
masa lalu adalah sejarah
masa lalu adalah kenangan
masa lalu juga pelajaran
melupakan masa lalu bukanlah hal bijak
menjadikannya kambing hitam juga tidak baik
tapi...jadikanlah masa lalu sebagai guru
yang akan terus memberimu pelajaran baru
setiap hari, dan sepanjang waktu
agar suatu saat nanti
hal yang menyakitkan itu
tidak akan terulang
untuk kedua kalinya kepadamu
aku tahu...
aku tidak bisa menggantikan posisinya
ku juga tidak bisa sepertinya
apalagi menjadi dia
aku adalah aku
dengan berbagai kekurangan yang kupunya
juga kelemahan diri yang melimpah
namun...
kucoba untuk terus memperbaiki diri
untuk menjadi pribadi yang introspeksi
aku sadar, aku bukanlah segalanya
aku bukanlah superhero tanpa cacat
aku juga bukan nabi muhammad yang dijamin masuk surga
aku hanyalah pemuda akhir zamanyang terus dan terus mencari perbaikan
aku tidak mau berdiri terus seperti ini
tanpa gerak, tanpa aksi
ku ingin melangkahkan kaki
terus berjalan, bahkan berlari
untuk mengejar semua mimpi
karena ku tak ingin
menjadi orang yang dibenci Allah
yaitu orang yang menyuruh kebaikan
namun dia sendiri tidak mengerjakan
aku malu...
saat kuterus memberimu mimpi dan dukungan
aku malah asyik dengan lamunan khayal
aku malu pada diriku sendiri
lebih-lebih kepadamu
namun kini...
detik ini...
aku bertekad mengubah diri
terus mengayuhkan langkah kaki
berlari mengejar mimpi
terus berlari tanpa ada henti
mengejar kepastian yang ada di ujung perjalanan ini
aku berharap kamu pun seperti itu
melepaskan semua beban
melupakan semua kesedihan
dan mulai melangkahkan kaki
mengejar indahnya mimpi
mari sama-sama melangkah
mengayunkan langkah kaki penuh irama
meski onak dan duri di depan mata
kerikil dan bebatuan menghalangi jalan kita
kalau kita menghadapinya bersama
itu semua bisa kita lewati dengan mudah
bahkan, seandainya jalur perjalanan terputus
kita masih bisa merangkai jembatan
untuk menyebrang dan melanjutkan gapaian mimpi kita...
semoga...
Rabu, 11 April 2012
Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal)
Indonesia memang asik kalau nggak ada JIL (Jaringan Islam Liberal). ya nggak? kalau setuju, jangan cuman bilang ya saja. buktikan dengan membaca tulisan Nasrul yang terbaru ini...
Saat Tulisan ini
dibuat, 23.197 Facebooker (Pengguna
situs Facebook) mengaku “suka” dengan tag
berjudul “#IndonesiaTanpaJIL” di situs jejaring sosial buatan Mark
Zuckerberg tersebut. 2.065 Facebooker
juga telah membahas topik yang lagi hangat ini. Dan nampaknya jumlah ini akan
terus bertambah seiring gencarnya sosialisasi menentang liberalisasi di
Indonesia.
JIL (Jaringan Islam
Liberal) sebagai landmark pemikiran
liberal di Indonesia sudah berdiri 11 tahun yang lalu, tepatnya 8 Meret 2001.
Utan Kayu 68H memang menjadi markas JIL dan beberapa kelompok budaya, seni dan
agama. Selain menjadi markas, Utan Kayu 68H juga menjadi center kegiatan kaum
liberal selama 11 tahun.
Dari situlah para
aktivis liberal menyebarluaskan pikiran-pikiran sesat dan nyelenehnya ke
kalangan umat Islam Indonesia. Talkshow di Radio 68H itu kerap mengangkat
tema-tema yang isinya banyak menggugat syariat Islam. Termasuk milis dan
website JIL yang banyak menggugat otentitas al-Qur’an yang menjadi kitab suci
umat Islam di seluruh dunia.
Sebagian aktivis JIL
melanjutkan studi ke luar negeri, sebut saja Ulil Abshar Abdalla melanjutkan studi
ke Universitas Harvard-Amerika Serikat dan Boston University (gelar master),
Nong Darol Mahmada ke Australia dan Luthfi Assyaukani ke Singapura. Berbagai
diskusi dan seminar digelar JIL secara terbuka kepada masyarakat dan kalangan
mahasiswa. Adalah Guntur Romli, aktivis JIL yang terlihat aktif sebagi
moderator.
Dalam perjalanannya,
aktivis JIL seperti Ulil telah menghasilkan karya sesatnya, diantaranya buku
berjudul: “Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam, Bunga Rampai Surat-surat
Tersiar”. Buku ini merupakan kumpulan surat Ulil dengan para anggota milis
Islam Liberal sejak ia belajar di Boston satu setengah tahun lamanya.
Hal serupa juga
dilakukan Luthfi As Syaukani yang giat menuliskan pemikiran liberalnya ke
sejumlah media massa Indonesia. Harian Kompas sempat memuat artikel As Syaukani
yang berjudul “Dua Abad Islam Liberal” (2007). Dalam tulisan tersebut,
Luthfi menyebut JIL, lembaga yang dibentuk pada 2001 itu sebagai sebuah gerakan
pencerahan bagi umat Islam di Indonesia. Ia menganjurkan agar umat Islam
bergembira menyambut ulang tahun JIL ketika itu.
Menurut salah satu
pentolan JIL Novriantoni, keberadaan JIL adalah untuk menindaklanjuti proyek
pembaruan Islam yang sudah ada. Ia tidak menampik, keberadaan sosok Nurcholish
Madjid alias Cak Nur ini turut menginspirasi lahirnya JIL. “Kalau dulu di masa
Cak Nur, perspektifnya tentang Islam itu inklusif, kini agak melangkah lebih
maju ke depan, lebih kritis,” Novi, begitu ia disapa.
Selain Cak Nur
beberapa tokoh yang turut menginspirasi JIL adalah mendiang Gus Dur, Munawir
Sadzali dan Harun Nasution. Menurut Novi, proyek pemikiran Islam itu semacam
mata rantai yang berkesinambungan, tidak terputus.
Gagasan tentang JIL
pertama kali dibicarakan di Utan Kayu, tahun 2001 silam. Pada waktu itu, Ulil
Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukani, Goenawan Mohamad dan lainnya berkumpul untuk
membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain markas JIL, Utan Kayu lebih dulu
dikenal sebagai tempat kongkow-kongkow, teater, penerbitan jurnal kalam, dan
kantor Radio 68H.
JIL menempatkan
tempatnya di Jl. Utan Kayu, meski tidak memiliki hubungan secara struktural
dengan teater maupun radio, namun tetap memiliki visi-misi yang sama:
menyebarkan faham sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme).
Sebelumnya, Asia
Foundation merupakan penyokong dana terbesar JIL. Namun, kabarnya, lembaga itu
tidak lagi memberikan sokongan dana. Meski aliran dana itu terhenti, aktivis
JIL masih banyak mendapatkan dana dari donator-donatur lain, selain dari
swadaya sendiri.
Novriantoni yang lulusan
Gontor ini, menegaskan kembali, tentang perlunya sekularisme, pemisahan atara
wewenang agama dan negara. Negara-negara yang masih teokratis itu adalah
negara-negara yang membawa bencana lebih besar daripada negara-negara sekular.
“Khilafah adalah utopia yang harus ditinggalkan oleh umat Islam,” kata Novi
ngawur. Sementara itu Koordinator JIL Ulil Abshar Abdalla mengatakan,
sekularisme tidak menghalangi dan memusuhi peran agama dalam ruang publik. (www.voa-islam.com)
Jika JIL dengan paham liberalis
nya menjadi sebuah tantangan nyata, maka tindakan untuk menghadapinya
haruslah tindakan nyata pula. Namun, tindakan nyata ini juga tidak dapat
dilakukan jika kita tidak memahami konsekuensi dari perlawanan kita terhadap
liberalisme. Kemudian, apa saja konsekuensi itu?
Konsekunsi pertama adalah
konsekuensi intelektual. Liberalisme bukan hanya soal kebebasan an, namun juga
soal destruktifikasi ajaran Islam. Hal ini dimulai dari penafsiran ulang sumber
utama pemikiran Islam, al-Qur’an. Kalangan liberal—yang bukan hanya di
Nusantara, menyusun ulang tafsir Qur’an lewat metode yang mereka sebut
hermeneutika. Mohammad Arkoun adalah salah satu tokoh Islam Liberal dunia yang
berdiri di garis depan dalam hal ini. Sebagaimana dapat kita baca dalam buku
“Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an” (Adian Husaini & Abdurrahman al-Baghdadi),
tafsir hermeneutika bukanlah tafsir yang berasal dari para ulama, standar
tafsirnya bukanlah aqidah Islam, melainkan nilai-nilai Barat.
Jadi, dengan tafsir ini, Qur’an dipaksa manut pada ide-ide Barat. Maka jangan heran jika “tafsir” mereka,
“ijtihad” mereka cenderung membenarkan ide pluralisme, feminisme dan
sekulerisme yang notabene menjadi “ajaran-ajaran suci” dari peradaban Barat.
Ini tidak termasuk gagasan dan ide-ide liberalnya yang sering “dipaksakan”
kepada masyarakat Muslim.
Apa yang sesungguhnya dilakukan kelompok JIL melakukan aksi demo
“Indonesia Tanpa FPI” di bundaran HI, hanyalah permen (alias pemanis) saja. Hasrul Azwar mengatakan Gerakan Indonesia
Tanpa FPI merupakan aksi diskriminatif. "Gerakan Indonesia tanpa FPI itu
diskrminatif, karena gerakan itu membantah sebuah fakta di tengah-tengah
masyarakat. FPI itu ada dimana-mana," katanya. (www.inilah.com)
Karena sesungguhnya bukan itu kerja utamanya. Kerja-kerja utama
mereka jauh lebih penting yang tidak terlihat sorot kamera dan mata publik. Yaitu,
merancang kurikulum, mendesak undang-undang dan mempengaruhi kebijakan politik.
Oleh karenanya, dalam hal ini para intelektual Muslim punya dua tugas.
Pertama, mereka harus
membentengi umat dari model tafsir ini dengan menjelaskan kekeliruannya, dan
yang kedua mereka harus kerja keras
dalam mereaktualisasi tafsir Qur’an—tentunya dengan metode yang benar—agar
dapat menjawab realitas kekinian. Hal ini untuk mengisi kekosongan tafsir
al-Qur’an yang hendak direbut oleh kaum liberal. Memang, menghadapi aliran hermeneutika
dan derivatnya sama saja menghadapi sekte baru karena pada hakikatnya, dengan
menafsir ulang Qur’an dan sumber-sumber dasar ajaran Islam dengan standar
ide-ide kufur, kaum liberal sedang mengacak-acak agama Islam, bahkan cenderung
membuat semacam “agama” baru.
Konsekuensi kedua adalah
konsekuensi politis. Monster liberalisme memiliki wujud nyata bukan hanya ranah
pemikiran, melainkan juga realitas politik saat ini, yakni demokrasi. Abdul
Qadim Zallum dalam bukunya “Ad-Dimuqratiyah Nizhamul Kufr” (Edisi terjemahan : “Demokrasi Sistem
Kufur”) mendefinisikan demokrasi sebagai sistem yang bertumpu pada
empat pilar ide kebebasan (liberalisme) : kebebasan berpikir, kebebasan
berperilaku, kebebasan berakidah, dan kebebasan kepemilikan. Jelas jenis
kebebasan pertama adalah akar dari liberalisme yang selama ini diusung JIL,
dari kebebasan berpikir lahirlah tafsir liberal hermeneutika. Kebebasan jenis
kedua adalah akibat langsung dari yang pertama.
Kebebasan jenis ketiga sering disebut pluralisme, dan yang keempat
adalah kapitalisme.
Meskipun seolah kapitalisme terpisah dari bangunan pemikiran JIL, namun keempat jenis kebebasan tersebut berakar dari asas yang sama, yaitu paham sekulerisme, di mana sistem demokrasi yang menyerahkan pembuatan hukum pada otak manusia (bukan wahyu) menjaga agar isme tersebut tetap eksis dalam tataran legal formal.
Meskipun seolah kapitalisme terpisah dari bangunan pemikiran JIL, namun keempat jenis kebebasan tersebut berakar dari asas yang sama, yaitu paham sekulerisme, di mana sistem demokrasi yang menyerahkan pembuatan hukum pada otak manusia (bukan wahyu) menjaga agar isme tersebut tetap eksis dalam tataran legal formal.
Baru-baru ini ditengarai, kalangan liberal “ikut nimbrung” dibalik
Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender juga
Rancangan Undang Undang tentang Kerukunan Umat Beragama (RUU KUB). Belum lagi
gerilya mereka di kampus-kampus perguruan tinggi Islam. Seperti dimaklumi,
banyak dosen di IAIN/UIN lulusan dari Barat yang pulang dengan membawa Islam
versi liberal. Bisa dibayangkan, berapa ribu tiap tahun sarjana Islam
diluluskan dari dosen-dosen berpikiran liberal?
Memahami siapa dan apa yang kita hadapi dalam perlawanan melawan
liberalisme menyeret kita pada sebuah perundingan untuk mereposisi peran ulama
dan juga intelektual muslim. Konsekuensi pertama yang dipaparkan di atas
memberi tuntutan pada para ulama dan intelektual muslim untuk melakukan tajdid
(pembaharuan) atas ajaran Islam. Namun pengertian tajdid di sini tidak boleh
terjebak pada pengertian yang diberikan oleh kaum liberal, yang lebih dekat
kepada perombakan dan penyimpangan.
Sebagaimana digagas Naquib al-Attas, tajdid haruslah dimaknai pembaruan
dari yang ada sekarang menjadi kembali mendekati versi aslinya. Dengan kata
lain, tajdid berarti kembali kepada Islam yang sesuai dengan ajaran Rasul,
pemahaman para shahabat dan salafus shaleh.
Tajdid juga berarti mengoptimalkan kembali ijtihad agar Islam kembali
aktual menghadapi tantangan zaman. Ijtihad yang dimaksud bukanlah hanya ijtihad
untuk menghadapi persoalan-persoalan yang muncul hari ini, namun juga
menghadapi masa depan. Dengan demikian, Islam menjadi “baru” kembali dalam
konteks permasalahan kontemporer.
Sedangkan konsekuensi kedua, yakni konsekuensi politis, membawa kita
pada pertarungan intelektual yang berat. Mau tidak mau, para ulama dan
intelektual muslim harus meluaskan ruang lingkup kerjanya ke area
ideologis-politis. Ijtihad di bidang-bidang semacam harus dimulai dan
dikembangkan. Para ulama dan intelektual muslim harus mampu membuktikan bahwa
umat Islam dapat lepas dari wordlview Barat, bukan hanya dalam ranah ilmu dan
pemikiran, namun juga dalam ranah ijtihad politik, sosial dan ekonomi. Bahwa
ada alternatif lain selain demokrasi, memerlukan ijtihad yang serius dan
berkesinambungan.
Kerja-kerja intelektual tersebut tentu membawa kita pada permasalahan
serius. Dapatkah para ulama dan intelektual Muslim bersatu dan duduk pada
satu meja, mengesampingkan sekat-sekat yang selama ini ada, untuk
merekonstruksi ajaran dan umat Islam?
Pada hakikatnya, Islam Liberal hadir memanfaatkan kekosongan visi
peradaban pada umat Islam. Oleh karena itu, hanya jika kita dapat menampilkan
kembali Islam sebagai sebuah peradaban, gagasan kaum liberal yang membajak
Islam akan segera usang dan kehilangan tempat dalam takdir sejarah umat.
Apa yang telah dilakukan lembaga seperti Institute for the Study of Islamic
Thought and Civilizations (INSISTS), Center for Islamic and Occidental
Studies (CIOS) dan lembaga-lembaga sejenis layak diapresiasi.
Karena melawan paham liberal tidak cukup mengerahkan massa di jalanan. Sebab
pemikiran tidak bisa habis hanya karena didemo.
Menulis, membuat karya ilmiah, mengadakan training dan kursus,
memperkuat kurikulum pendidikan sekolah-sekolah Islam atau pesantren agar
steril dari hermeneutika dan sejenisnya justru akan melahirkan pemuda,
mahasiswa, sarjana yang secara otomatis menolak paham menyesatkan itu dan
semakin bangga dengan peradaban Islam, yang tidak merasa minder dengan Barat. Wallahu A'lam
Bishawab.* (www.hidayatullah.com)
(Dari berbagai sumber di Internet)
By:
cakyung as-sidawey
On Rabu, April 11, 2012
Minggu, 08 April 2012
Obral Stiker Jihad
cari stiker-stiker jihadi? pesan di sini... HARAGA HANYA RP. 1500/GAMBAR. Cari Lainnya di sini...
-
Cara Pemesanan:
1.Kirim uang via wesel ke: PPI Al-Izzah, Dusun Tragal Desa Kedungpapar Kec. Sumobito Jombang 61483. a/n Muhammad Nasrul.
*Pembelian Minimal 100 gambar. GRATIS ONGKOS KIRIM.
2.Konfirmasikan Pembayaran ke: mnasrul02@gmail.com dengan format: Nama / Alamat Lengkap / Tanggal Pengiriman Uang / Jumlah uang yang dikirim / Kode Barang: Jumlah Barang /Kode Barang: Jumlah Barang dst.
3.Barang Segera Kami kirim ke tempat Anda.
Kode: STKR 01
Kode: STKR 02
Kode: STKR 03
Kode: STKR 04
Kode: STKR 05
-
Cara Pemesanan:
1.Kirim uang via wesel ke: PPI Al-Izzah, Dusun Tragal Desa Kedungpapar Kec. Sumobito Jombang 61483. a/n Muhammad Nasrul.
*Pembelian Minimal 100 gambar. GRATIS ONGKOS KIRIM.
2.Konfirmasikan Pembayaran ke: mnasrul02@gmail.com dengan format: Nama / Alamat Lengkap / Tanggal Pengiriman Uang / Jumlah uang yang dikirim / Kode Barang: Jumlah Barang /Kode Barang: Jumlah Barang dst.
3.Barang Segera Kami kirim ke tempat Anda.
Kode: STKR 01
Kode: STKR 02
Kode: STKR 03
Kode: STKR 04
Kode: STKR 05
By:
cakyung as-sidawey
On Minggu, April 08, 2012
Motivasi Harian Peneguh Langkah Kita
Kadangkala, di tengah menjalani hidup, kita dilanda berbagi keraguan untuk melengkah. bahkan ketidaksabaran. ada juga yang tergesa dan bosan. Apa solusinya?
Pilihan itu memang tidak datang pd kita ketika kita menginginkannya, mengharapkannya dan menginginkannya. Karena Allah mengetahui bagaimana dan siapa yg dipilihNYA Karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita daripada diri kita sendiri. Karena Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Walaupun notabene-nya keinginan kita baik, baik menurut siapa? Baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah dan bila baik menurut Allah pastilah itu juga baik untuk manusia. Banyak hal yang kita harapkan. Mengharapkan sesuatu yang akan menjadi kenyataan. Tapi adakalanya kita harus sadar dan bersiap-siap karena tak selamanya harapan sesuai dengan kenyataan. Ketika kita minta pada Allah sekuntum bunga yg segar, Allah memberikan kita sebuah kaktus berduri. Ketika kita meminta pada ALLAH kupu-kupu yang indah. ALLAH malah memberikan kita ulat yg berbulu. Itulah skenario ALLAH. Lebih baik tak usah banyak berkomentar dengan apa pun yang terjadi, nurut aja dengan sang sutradara, Allah. Dan ingatlah, skenario Allah itu maha indah. Kadang kita tidak mengerti apa yg akan terjadi di balik semua peristiwa yg ada di sekitar kita. Tapi yakinlah. Allah pasti mempunyai rencana lain di balik semua ini.
Taukah kamu apa istimewanya kaktus?
kaktus yg berduri itu kini telah menjadi kaktus yg tahan terhadap panas, mana ada tumbuhan lain yang sekuat kaktus, tahan terhadap kekeringan, tumbuh di padang sahara yang gersang. Untuk mempertahankan hidupnya itu kaktus memiliki perbekalan di dalam daunnya. Bukan untuk hidup yang sebentar, tapi untuk dalam jangka waktu tertentu. Dan tatkala waktunya telah tiba, Allah memberikan bunga yg indah tumbuh di kaktus itu.
Lalu, apa nilai lebihnya ulat?
jangan hanya melihat ulat dari negatifnya saja yang merusak tanaman dan bahkan menjijikan. Lihatlah proses perjalanan hidupnya, suatu saat dia harus merubah dirinya menjadi sebuah kepompong yang akhirnya dapat berubah menjadi kupu-kupu yang indah, cantik dan dikagumi karena keindahannya.
Semakin hari..kamu akan semakin mengerti hakikat dakwah ini. Lantas, sekarang yg kamu perlu perhatikan adalah pahamilah setiap langkah yg kamu tempuh. Laksanakan saja apa yang menjadi perintah-Nya dan tinggalkan yang dilarang-Nya. Kerjakan semua amanah yang ada, selesaikan tugas-tugas dengan baik. Dan lihat,,,disanalah tersimpan harmoni setiap kehidupan. Ada pelangi dalam setiap perjalanan. Ada pelangi yang hadir setelah rintik hujan menyapa. Dan pelangi itu diperuntukkan bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas dalam menjalani perjalanan hidupnya.
Sebagaimana kita sadari, kita bukanlah jamaah malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita juga bukan jamaah syaithon yang selalu berada dalam kesalahan. Kita adalah jamaah manusia biasa yang tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah.
Jangan selalu menyesali setiap kesalahan yang terjadi. Karena penyesalan hanya akan membebani hati. Jangan terlalu membanggakan kebenaran, karena kebenaran hanyalah bersumber dari-Nya. Meredam simfoni cinta ilahi yang ditujukan untuk kita. Yang perlu kita lakukan adalah mencari benang merah..
supaya kita dapat memperbaiki apa-apa yang telah lalu. Dakwah adalah sebuah keharusan. Karena dakwah tidak butuh kita. Tapi kitalah yang butuh dakwah. Bukankah ALLAH sudah menyatakan dlm firmanNYA. Masuklah kamu dalam islam secara kaffah. Lantas, apa yang ingin kamu hindari? kita tidak bisa mengapung ataupun melayang jika ingin mencari mutiara di dasar laut. Tapi kita harus menenggelamkan diri kita di dasar laut itu. Karena mutiara itu tidak ada di permukaan, mutiara itu juga tidak ada di tengah-tengah. Mutiara itu tersimpan di dasar. Di dasar kedalaman hati kita.
Kamu pasti akan menyadari bahwa semua ini semata-mata adalah proses pendewasaan diri kita. Bukankah tanah liat sebelum menjadi sebuah guci yang indah harus ditempa dengan berbagai ujian? Dibentuk secara perlahan dan dibakar. Bukankah sepotong bambu sebelum menjadi pipa air juga ditempa dengan berbagai peristiwa yang menyakitkan? Bukankah bola lampu ada setelah mengalami beratus bahkan beribu percobaan? Bukankah mentari terbit setelah melewati malam yang hitam?
Karena itu bangkitlah....
Semuanya akan baik-baik saja. Serahkan saja semua pada Allah. Tugas kita adalah meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, setelahnya hanya bertawakkal kepada-Nya. Berbahagialah menjadi seorang aktivis dakwah.
Berbahagialah menjadi orang-orang yang terpilih yang akan membumi langitkan dakwah. Tidak semua orang mampu mengemban risalah dakwah ini. Karena dalam dakwah ini penuh onak dan cabaran, karena jalan dakwah ini dipenuhi onak dan duri, karena dalam dakwah ini diperlukan banyak pengorbanan, waktu, pikiran, harta, tenaga, bahkan nyawa. Dan itu sama sekali tidaklah mudah. Kenapa hanya kita? Karena Allah mengetahui, kita pasti bisa.
Disaat orang-orang menjauhimu karena kau begitu berbeda dengan yang lainnya, Allah adalah satu-satunya yang tak berpaling darimu. Ketika kekecewaan dakwah mendera jiwamu, Allah-lah satu-satunya Dzat yang tak mengecewakan dan tak pernah melukai perasaan. Ketika sesak menghimpit, Allah-lah yang melapangkannya. Dan ketika beban dakwah yang engkau pikul terasa berat, Allah-lah satu-satunya tempat bersandar.
Jangan bertanya kapan semua akan berhenti? Semua akan berhenti saat maut menghampiri. Kapan waktu beristirahat? Ketahuilah tempat istirahat orang beriman adalah di surga. Selama belum memperoleh surga, teruslah bergerak dan berjuang!
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu akan diuji oleh Allah. Karena itu, persiapkan ruhiyah kita untuk menjawab ujian itu. Karena kita harus naik kelas dalam ujian ini. Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa. Sesungguhnya ALLAH membersama langkah kita menuju padaNYA.
Hidup itu adalah sebuah pilihan. Semua orang berhak memilih jalannya masing-masing, setiap jalan memiliki konsekuensi tersendiri. Dan engkau benar karena telah memilih jalanmu disini. Karena itu, perkuat langkahmu.
Jangan biarkan langkahmu goyah. Ketika kita diam orang lain tak akan tau apa yg sedang kita alami, orang lain tak tau jika diam kita adalah fikir dan dzikir. Ketika kita mulai goyah, berpeganglah pada tangan saudara-saudaramu. Jika mereka juga lengah dan jangkauan kita tidak sampai kepada mereka..
Maka sesungguhnya Allah-lah tempat kita mendekat dan meminta pertolongan agar menguatkan kita, layaknya kekuatan karang di dasar lautan yang tak mudah dihempas ombak dan badai. Tanamkan keikhlasan dan berpikirlah positif. Pasti ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang terjadi.
Bersabarlah..karena sabar itu tiada batasnya..karena kesabaran itu akan berbuah manis...bersabarlah karena Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Tak bahagiakah kau bila bersama-Nya? Bukankah kau rela dengan apapun yang terjadi asalkan selalu bersama-Nya? Nikmat terbesar adalah kebersamaan dengan-Nya, berada dalam naungan-Nya, dalam perhatian-Nya dan dalam pengawasan-Nya..
Seorang mukmin boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah tetapi dia tidak boleh kalah, menyerah pada kelemahannya, menyerah pada tantangan dan keterbatasannya apalagi bila sampai putus asa. Dia harus tetap menembus gelap supaya dia bisa menjemput fajar. Dia harus merasakan rinai hujan supaya bisa melihat indahnya pelangi. Dia harus merasakan getirnya perjuangan supaya bisa merasakan indahnya ukhuwah
Ya Robb....
Satu pintaku, ketika aku sudah tak mampu lagi menggenggam erat tangan saudaraku, jangan pernah biarkan ia lepas dari genggamanMU. Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya, Terangilah dengan cahyaMu yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami…
Pilihan itu memang tidak datang pd kita ketika kita menginginkannya, mengharapkannya dan menginginkannya. Karena Allah mengetahui bagaimana dan siapa yg dipilihNYA Karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita daripada diri kita sendiri. Karena Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Walaupun notabene-nya keinginan kita baik, baik menurut siapa? Baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah dan bila baik menurut Allah pastilah itu juga baik untuk manusia. Banyak hal yang kita harapkan. Mengharapkan sesuatu yang akan menjadi kenyataan. Tapi adakalanya kita harus sadar dan bersiap-siap karena tak selamanya harapan sesuai dengan kenyataan. Ketika kita minta pada Allah sekuntum bunga yg segar, Allah memberikan kita sebuah kaktus berduri. Ketika kita meminta pada ALLAH kupu-kupu yang indah. ALLAH malah memberikan kita ulat yg berbulu. Itulah skenario ALLAH. Lebih baik tak usah banyak berkomentar dengan apa pun yang terjadi, nurut aja dengan sang sutradara, Allah. Dan ingatlah, skenario Allah itu maha indah. Kadang kita tidak mengerti apa yg akan terjadi di balik semua peristiwa yg ada di sekitar kita. Tapi yakinlah. Allah pasti mempunyai rencana lain di balik semua ini.
Taukah kamu apa istimewanya kaktus?
kaktus yg berduri itu kini telah menjadi kaktus yg tahan terhadap panas, mana ada tumbuhan lain yang sekuat kaktus, tahan terhadap kekeringan, tumbuh di padang sahara yang gersang. Untuk mempertahankan hidupnya itu kaktus memiliki perbekalan di dalam daunnya. Bukan untuk hidup yang sebentar, tapi untuk dalam jangka waktu tertentu. Dan tatkala waktunya telah tiba, Allah memberikan bunga yg indah tumbuh di kaktus itu.
Lalu, apa nilai lebihnya ulat?
jangan hanya melihat ulat dari negatifnya saja yang merusak tanaman dan bahkan menjijikan. Lihatlah proses perjalanan hidupnya, suatu saat dia harus merubah dirinya menjadi sebuah kepompong yang akhirnya dapat berubah menjadi kupu-kupu yang indah, cantik dan dikagumi karena keindahannya.
Semakin hari..kamu akan semakin mengerti hakikat dakwah ini. Lantas, sekarang yg kamu perlu perhatikan adalah pahamilah setiap langkah yg kamu tempuh. Laksanakan saja apa yang menjadi perintah-Nya dan tinggalkan yang dilarang-Nya. Kerjakan semua amanah yang ada, selesaikan tugas-tugas dengan baik. Dan lihat,,,disanalah tersimpan harmoni setiap kehidupan. Ada pelangi dalam setiap perjalanan. Ada pelangi yang hadir setelah rintik hujan menyapa. Dan pelangi itu diperuntukkan bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas dalam menjalani perjalanan hidupnya.
Sebagaimana kita sadari, kita bukanlah jamaah malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita juga bukan jamaah syaithon yang selalu berada dalam kesalahan. Kita adalah jamaah manusia biasa yang tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah.
Jangan selalu menyesali setiap kesalahan yang terjadi. Karena penyesalan hanya akan membebani hati. Jangan terlalu membanggakan kebenaran, karena kebenaran hanyalah bersumber dari-Nya. Meredam simfoni cinta ilahi yang ditujukan untuk kita. Yang perlu kita lakukan adalah mencari benang merah..
supaya kita dapat memperbaiki apa-apa yang telah lalu. Dakwah adalah sebuah keharusan. Karena dakwah tidak butuh kita. Tapi kitalah yang butuh dakwah. Bukankah ALLAH sudah menyatakan dlm firmanNYA. Masuklah kamu dalam islam secara kaffah. Lantas, apa yang ingin kamu hindari? kita tidak bisa mengapung ataupun melayang jika ingin mencari mutiara di dasar laut. Tapi kita harus menenggelamkan diri kita di dasar laut itu. Karena mutiara itu tidak ada di permukaan, mutiara itu juga tidak ada di tengah-tengah. Mutiara itu tersimpan di dasar. Di dasar kedalaman hati kita.
Kamu pasti akan menyadari bahwa semua ini semata-mata adalah proses pendewasaan diri kita. Bukankah tanah liat sebelum menjadi sebuah guci yang indah harus ditempa dengan berbagai ujian? Dibentuk secara perlahan dan dibakar. Bukankah sepotong bambu sebelum menjadi pipa air juga ditempa dengan berbagai peristiwa yang menyakitkan? Bukankah bola lampu ada setelah mengalami beratus bahkan beribu percobaan? Bukankah mentari terbit setelah melewati malam yang hitam?
Karena itu bangkitlah....
Semuanya akan baik-baik saja. Serahkan saja semua pada Allah. Tugas kita adalah meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, setelahnya hanya bertawakkal kepada-Nya. Berbahagialah menjadi seorang aktivis dakwah.
Berbahagialah menjadi orang-orang yang terpilih yang akan membumi langitkan dakwah. Tidak semua orang mampu mengemban risalah dakwah ini. Karena dalam dakwah ini penuh onak dan cabaran, karena jalan dakwah ini dipenuhi onak dan duri, karena dalam dakwah ini diperlukan banyak pengorbanan, waktu, pikiran, harta, tenaga, bahkan nyawa. Dan itu sama sekali tidaklah mudah. Kenapa hanya kita? Karena Allah mengetahui, kita pasti bisa.
Disaat orang-orang menjauhimu karena kau begitu berbeda dengan yang lainnya, Allah adalah satu-satunya yang tak berpaling darimu. Ketika kekecewaan dakwah mendera jiwamu, Allah-lah satu-satunya Dzat yang tak mengecewakan dan tak pernah melukai perasaan. Ketika sesak menghimpit, Allah-lah yang melapangkannya. Dan ketika beban dakwah yang engkau pikul terasa berat, Allah-lah satu-satunya tempat bersandar.
Jangan bertanya kapan semua akan berhenti? Semua akan berhenti saat maut menghampiri. Kapan waktu beristirahat? Ketahuilah tempat istirahat orang beriman adalah di surga. Selama belum memperoleh surga, teruslah bergerak dan berjuang!
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu akan diuji oleh Allah. Karena itu, persiapkan ruhiyah kita untuk menjawab ujian itu. Karena kita harus naik kelas dalam ujian ini. Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa. Sesungguhnya ALLAH membersama langkah kita menuju padaNYA.
Hidup itu adalah sebuah pilihan. Semua orang berhak memilih jalannya masing-masing, setiap jalan memiliki konsekuensi tersendiri. Dan engkau benar karena telah memilih jalanmu disini. Karena itu, perkuat langkahmu.
Jangan biarkan langkahmu goyah. Ketika kita diam orang lain tak akan tau apa yg sedang kita alami, orang lain tak tau jika diam kita adalah fikir dan dzikir. Ketika kita mulai goyah, berpeganglah pada tangan saudara-saudaramu. Jika mereka juga lengah dan jangkauan kita tidak sampai kepada mereka..
Maka sesungguhnya Allah-lah tempat kita mendekat dan meminta pertolongan agar menguatkan kita, layaknya kekuatan karang di dasar lautan yang tak mudah dihempas ombak dan badai. Tanamkan keikhlasan dan berpikirlah positif. Pasti ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang terjadi.
Bersabarlah..karena sabar itu tiada batasnya..karena kesabaran itu akan berbuah manis...bersabarlah karena Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Tak bahagiakah kau bila bersama-Nya? Bukankah kau rela dengan apapun yang terjadi asalkan selalu bersama-Nya? Nikmat terbesar adalah kebersamaan dengan-Nya, berada dalam naungan-Nya, dalam perhatian-Nya dan dalam pengawasan-Nya..
Seorang mukmin boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah tetapi dia tidak boleh kalah, menyerah pada kelemahannya, menyerah pada tantangan dan keterbatasannya apalagi bila sampai putus asa. Dia harus tetap menembus gelap supaya dia bisa menjemput fajar. Dia harus merasakan rinai hujan supaya bisa melihat indahnya pelangi. Dia harus merasakan getirnya perjuangan supaya bisa merasakan indahnya ukhuwah
Ya Robb....
Satu pintaku, ketika aku sudah tak mampu lagi menggenggam erat tangan saudaraku, jangan pernah biarkan ia lepas dari genggamanMU. Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya, Terangilah dengan cahyaMu yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami…
By:
cakyung as-sidawey
On Minggu, April 08, 2012
Langganan:
Postingan (Atom)








