Kamis, 17 Januari 2013

join free and make money by signing up

Bingung nyari program referal terpercaya? di sini jawabannya... make money online is easy  
NETBATES
is a website that anyone can join free and make money by signing up companies offers and referring new member to the site. As most of the offers are from US companies so many of the paid to sign up opportunities are available to American only. People who live outside US can still earn money through the refer a friend program and fill out some low-paid offers.

Low-paid offers usually are free to sign up whereas high-paid offers generally require you to include credit card detail during the process of sign up. Your earning will depend on the number of free offers completed and your referral. If you can complete 5 cash offers daily, you should be earning more than $20.00 per month. The more you sign up the higher your earning. Completing offers isn't a difficult job (an easy task actually) some members said that it is fun doing it. They will pay you when the earning exceeds $20.00.

 SIGN UP NOW

Kamis, 06 Desember 2012

Melirik Jihad Cyber

Lantunan “Gaza Tonight” kembali terdengar. Alunan nadanya menghipnotis para pemirsa. Ditambah sejumlah gambar anak-anak Gaza yang terluka menjerit menahan sakit. Serta pemilihan judul tema berita yang bombastis, menambah lengkap rangkaian berita memilukan sore itu. Tak khayal, banyak penonton yang mencucurkan air mata melihat tayangan seperti itu.
#
MELIRIK JIHAD CYBER

Lantunan “Gaza Tonight” kembali terdengar. Alunan nadanya menghipnotis para pemirsa. Ditambah sejumlah gambar anak-anak Gaza yang terluka menjerit menahan sakit. Serta pemilihan judul tema berita yang bombastis, menambah lengkap rangkaian berita memilukan sore itu. Tak khayal, banyak penonton yang mencucurkan air mata melihat tayangan seperti itu.
Itu hanya salah satu stasiun televise kita, belum stasiun televise lainnya yang dengan kompak memberitakan kabar terakhir kondisi saudara-saudara kita di Gaza, Palestina. Sudah sepekan rangkaian tayangan-tayangan itu disajikan, menjadi top news hamper di semua media berita.
Saat makalah ini ditulis, kedua belah pihak, pasukan perlawanan Hamas dan pemerintahan Israel bersepakat untuk melakukan gencatan senjata. Namun, yang namanya Israel, tidak pernah menepati janjinya. Pasca perundingan gencatan senjata yang di fasilitasi mesir rabu (21/11), beberapa warga Palestina masih ditembaki mati.
Invasi yang terjadi selama 8 hari lamanya itu, menyisakan luka yang mendalam. Tercatat lebih dari 160 rakyat Gaza meninggal dunia, dengan mayoritas korban adalah anak-anak. Sedangkan korban luka mencapai 1000 orang. Dari pihak Israel sendiri dilaporkan hanya menewaskan 5 warga saja. Bukan hanya manusia saja yang menjadi korbannya. 400.000 pohon Zaitun di Gaza juga ditebas habis oleh militer Israel. Belum lagi tempat-tempat vital Gaza seperti rumah sakit, masjid, sekolah hingga kantor pemerintahan Hamas yang tidak sedikit hancur dibombardir Israel. Semuanya hancur. Hingga pemerintahan Israel mengklaim bahwa serangan kali ini adalah serangan terbesar mereka kepada Hamas dan Gaza-nya. Karena pemerintahan Hamas harus membangun kembali tempat-tempat umum itu dari nol, yang tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama.
Pelestina, milik siapa?
Tanah Pelestina seakan tidak ada habisnya diperebutkan. Tiga agama samawi, Islam, Kristen dan Yahudi saling mengklaim kepemilikan Palestina. Palestina adalah tanah konflik yang terus diperebutkan yang entah kapan akan berakhir. Namun, kita harus ingat disana terdapat Al-Aqsha, tanah suci umat islam, tempat para Nabi dan Rosul. Palestina adalah warisan kaum muslimin, dan hanya kaum muslimin yang berhak memilikinya. Umat islam telah mewarisinya sejak lebih dari 6000 tahun. Hal ini karena Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nasrani, tetapi seorang yang hanif dan muslim.
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nashrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.“ (Qs. Ali Imron : 67)
Karena itu, Zionis Yahudi tidak memiliki hak waris atas tanah Palestina. Sebab, Palestina adalah warisan keimanan. Dan Zionis Israel Yahudi saat ini berada dalam ruang keimanan yang berbeda. Bahkan bertentangan dengan pendahulu mereka itu.

Solidaritas untuk Palestina
Melihat tayangan-tayangan berita seperti di atas, membuat kaum muslimin Indonesia geram. Berbagai aksi solidaritaspun digalang. Bahkan beberapa demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia tak tanggung-tanggung mengerahkan massa. Mereka mengecam Israel dan menuntut pemerintah Indonesia bertindak yang tidak hanya tinggal diam. Berbagai tuntutan dibacakan; mulai dari aksi boikot produk-produk Yahudi hingga tuntutan menerjunkan TNI ke medan jihab Gaza. Dan, aksi pun ditutup dengan penggalangan bantuan untuk korban di Gaza. Semua dilakukan demi solidaritas untuk Palestina.
Berbagai dukungan dari kaum muslimin dunia memberikan tenaga tersendiri untuk Hamas. Hamas tidak tinggal diam, serangan balik (meski tidak berimbang) pun dilancarkan. Partai politik yang anti Yahudi ini tetap getol mempertahankan tanah Gaza. Tanah yang bukan hanya milik mereka, namun milik segenap umat islam dunia. Bahkan Hamas berkomitmen, kalau seandainya penembakan atau berbagai invasi yang dilakukan oleh Israel kembali terulang pasca gencatan senjata, mereka tidak akan segan menyerang komunitas Yahudi di Israel.
Lain di Indonesia, lain di Hamas, lain pula solidaritas yang dilakukan oleh penggiat dunia maya, Anonymous. Kelompok yang mengaku sebagai kumpulan para Hacker international ini ikut turun tangan. Meski Anonymous tidak jelas diketahui dimana keberadaannya, dan kurang jelas pula alasan kenapa kelompok ini turut serta ambil bagian. Sedikit banyak kaum muslimin terbantu oleh kemunculan sosok kelompok ini.
Dari pengakuannya, Anonymous telah berhasil membobol 10.000 website Israel dan Yahudi. Hal ini dilakukan sebagai balasan atas pelanggaran kemanusiaan oleh Israel yang dinilai sangat melampui batas. Anonymous mengecam tindakan keji itu dengan cara mereka sendiri, yaitu meng-hack situs-situs mereka. Mereka merusak system jaringan website, mengacak kode dan sandi-sandinya, hingga berusaha memusnahkan website yang mereka anggap perlu dimusnahkan.
Masih dari pengakuan Anonymous, kelompok ini mendeklarasikan diri sebagai kelompok anti Yahudi, yang tidak akan pernah rela bahkan mendukung kebijakan yang dibuat Yahudi dan saudara kembarnya, Amerika Serikat. Anonymous juga menyatakan “Perang Salib” kepada Yahudi.
Selain berhasil membobol 10.000 website Israel, Anonymous juga mempunyai prestasi lainnya. Mereka pernah merusak jaringan air dan gas America, mereka juga pernah membongkar kebobrokan tentara Amerika AS di Irak dari sebuah percakapan elektronik anggota FBI. Yang tak kalah, kelompok ini telah menginspirasi banyak hanker (muslim) untuk melawan Israel dengan perang gaya mereka; gaya cyber. Anonymous Hamas kontra Israel, yang membangun kita akan pentingnya jihad di dunia maya. Melirik jihad cyber.
Sebuah kelompok perkumpulan hacker muslim juga ikut ambil bagian. Kelompok yang tidak mau menyebutkan jati dirinya ini mengaku telah berhasil membobol 420 website Israel Yahudi. Sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap Israel yang membordir Gaza dalam sepekan lamanya.
Berpengaruhkan aktivitas para hacker ini terhadap kinerja musuh yang diserangnya? Sedikit atau banyak, pasti ada pengaruhnya. Dan aktivis seperti inilah yang penulis maksud sebagai jihad cyber melawan zionis.
Di dalam bukunya, Muhammad bin ahmad As-salim mengatakan bahwa aktivitas semacam ini, yaitu menjadi seorang hacker dapat membantu para mujahidin, yang kini tengah berhadapan dengan musuh di medan perang. Sebab, apa yang dilakukan para hacker menggunakan bahasa kekuatan dan serangan. Lebih lanjut beliau berpesan, “Barang siapa diberi anugrah keahlian dalam bidang ini, maka janganlah dia bersifat pelit untuk mempergunakannya dalam rangka membantu jihad. Keahlian ini bisa digunakan secara khusus untuk menghancurkan situs-situs yang memusuhi jihad dan mujahidin.”
Bukannya bermaksud meniadakan makna jihad yang sebenarnya; yaitu di medan perang. Jihad cyber memiliki beberapa keunggulan yang harus kita pahami. Yang bisa dijadikan alternative bagi kita yang memiliki kemampuan dibidang ini. Jika memang kita terhalangi untuk terjun langsung ke medan juang, cara ini bisa kita lakukan sebagai bentuk bantuan kepada mereka para mujahidin.
Dunia maya yang sifatnya “never turn off” atau tidak akan pernah mati memiliki keunggulan tersendiri. Para penggiat jihad cyber menyerang kapan saja dan dimanapun mereka mau. Jihad cyber tidak butuh lapangan luas untuk menginvasi lawan. Ruang sempitpun bisa dimanfaatkan. Lebih ekstrim lagi, beberapa hacker memakai jaringan wifi ditempat-tempat umum dalam melaksanakan aksinya.
Identitas “mujahid hacker” (meminjam istilah Imam Samudera) juga tidak mudah diketahui. Mereka bisa menyamarkan semua biodata diri, sehingga musuh sulit memprediksi serangan balik pun sangat kecil kemungkinannya terjadi. Yang paling sering, ketika lawan mengetahui situs web mereka di serang, mereka lebih memilih ‘defense’ (bertahan) daripada harus menyerang balik.
Yang perlu kita ketahui, dimana dunia maya jutaan informasi beredar tiada henti dalam hitungan detik. Informasi murahan yang dianggap sampah (hoax) hingga informasi vital yang akan menimbulkan pengaruh yang sangat luar biasa tersimpan didalamnya. Seorang hacker bisa mencari informasi yang mereka suka di situs-situs tertentu. Seperti wikileaks yang berhasil membocorkan informasi-informasi vital kenegaraan dari seluruh dunia. Aib-aib pemerintahan ditelanjangi habis-habisan kemudian disajikan di depan umum sebagai santapan public.
Akhirnya, kita harus sadar. Al-Masjid Al-Aqsha adalah warisan kaum muslimin. Yang harus kita jaga dan pertahankan. Begitupun dengan kondisi saudara seiman kita lainnya yang terus menjadi bulan-bulanan musuh, yang sangat membutuhkan bantuan kita. Bukan hanya materi namun juga kemampuan dan potensi yang kita miliki.
Bagi saudara seiman yang memiliki kemampuan untuk berjihad di dunia maya, berjihadlah di medan ini! Bagi yang belum mempunyai kemampuan di bidang ini, Muhammad bin Ahmad As-salim kembali berpesan, “Bagi yang tidak mengetahui teknik ini, hendaknya dia mempelajarinya, membuat musuh marah melalui aktivitas ini merupakan niat yang baik. Oleh karena itu, marilah kita berjihad meskipun lewat internet.” [ ] Wallahua’lam bish showab.#




Kamis, 15 November 2012

Etika Menerima Berita

Berita yang beredar kini bikin gerah saja. artikel ini saya tulis buat ngobatin kekecewaan saya terhadap pemberitaan media kita yang ngawur... lagi-lagi islam jadi korbannya.
*

ETIKA MENERIMA BERITA

Oleh: Muhammad Nasrul
*Santri PPI Al-Izzah Jombang, konsentrasi Pemikiran Islam


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka bertabayunlah kamu.” (QS. Al Hujurat: 6)

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Al- Harits menghadap Rasulullah saw. Ia berikrar menyatakan diri untuk masuk Islam. Rasulullah saw pun mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata; “ Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang – orang yang mengikuti ajakanku akan ku kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat yang telah ku kumpulkan itu. “

Ketika waktu yang telah di tetapkan telah tiba, tak seorang utusan pun menemuinya. Al- Harits mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah saw marah kepadanya. Ia pun telah memanggil para hartawan kaumnya dan berkata,” Sesungguhnya Rasulullah saw telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah beliau marah? Mari kita berangkat menghadap Rasulullah saw.

Rasulullah saw, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mengutus Al- Walid bin Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada Al- Harits. Ketika Al-Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum sampai ketempat yang dituju. Ia melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkan mengancam akan membunuhnya.

Kemudian Rasulullah saw mengirim utusan berikutnya kepada Al-Harits. Ditengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan Al-Harits dan sahabat- sahabat nya yang tengah menuju ketempat Rasulullah saw. Setelah berhadap-hadapan , Al-Harits menanyai utusan itu; “ Kepada siapa engkau di utus?” Utusan itu menjawab ; “ Kami di utus kepadamu.” Dia bertanya; “ Mengapa? “ Mereka menjawab;” Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Al-Walid bin Uqbah. Namun, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya.” Al-Harits menjawab ; “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar- benarnya, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.

Ketika mereka sampai dihadapan Rasulullah saw, bertanyalah beliau;” Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusanku?” Al-Harits menjawab ;” Demi Allah yang telah mengutus engkau sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat ini (QS. Al-Hujurat: 6) sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak hanya menerima keterangan dari sebelah pihak.

Media Kita Hari Ini
Sangat miris, hanya beberapa hitungan hari saja, kesalahan-kesalahan kode etik jurnalistik menghiasi pemberitaan media kita. Dan kebanyakan pemberitaan itu menyudutkan kemuliaan Islam. Masih segar dalam ingatan kita, ketika sebuah stasiun televisi swasta nasional pada Jumat (14/9) lalu, menyiarkan berita soal rekrutmen teroris yang bertajuk "Awas, Generasi Baru Teroris!" Berita ini melahirkan stigma terhadap ekstrakurikuler ROHIS sebagai sarang melahirkan bibit teroris. Sejak tayangan itu, tidak sedikit orang tua siswa yang melarang anaknya mengikuti kegiatan ROHIS.

Setelah itu, sebuah stasiun televisi swasta lain yang ‘katanya’ mengorientasikan sebagai stasiun televisi berita dan olahraga, resmi diadukan Indonesia Media Watch (IMW) kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lantaran kesalahan pemasangan foto seorang tokoh, sebagai terduga teroris dalam acara andalan beritanya pada Senin (24/09) pkl. 18.30 WIB.

Dan hanya lantaran mendapati buku-buku jihadi, sebuah PonPes diamankan kepolisian. Mereka diduga teroris. Polisi juga mendapati sejumlah senapan angin berada di PonPes tersebut. Sementara itu sebuah situs pemberitaan melansir berita bahwa kelompok ini adalah anggota GAMIS (Gabungan Masyarakat Islam). Lagi-lagi dugaan dan dugaan yang dijual ke publik. Tanpa pernah mencoba meneliti dulu.

Meneliti Setiap Berita
Kebanyakan, ketika kita mendengar suatu kabar, baik dari mulut ke mulut ataupun dari media massa yang kita konsumsi setiap hari, kita cenderung percaya dan menelannya mentah-mentah tanpa ada filter sama sekali. Kita segera meng’amini’ apa yang diberitakan. Kita tidak peduli dengan berita-berita yang sampai kepada kita, apakah berita itu benar ataukah salah. Padahal Allah telah mengajarkan adab agung yang harus kita lakukan tatkala suatu berita sampai kepada kita.

“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”. (QS. Al Hujurat: 6)

Periksalah dengan teliti, inilah etika yang dianjurkan Allah kepada kita. Memilah milih dan mengecek kembali kebenaran suatu berita yang sampai kepada kita. Dalam ilmu jurnalistik hal ini disebut dengan ‘kroscek’. Menggali kebenaran kabar yang masih menjadi buah bibir dan kesimpangsiuran di tengah masyarakat luas. Digali dari sumber-sumber dan data-data yang bisa dijadikan landasan dan bisa dipertanggungjawabkan salah benarnya suatu berita.

Mengkroscek suatu berita adalah etika seorang muslim. Meskipun kita belum pernah mengenyam pendidikan komunikasi ataupun mengikuti seminar jurnalistik, menilik kembali berita yang sampai kepada kita harus kita usahakan. Agar kita tidak larut dalam arus informasi yang terus menjejali kita dengan berbagai informasi yang ada.

Pentolan Nazzi, Hittler pernah mengatakan, “satu kesalahan yang ditayangkan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran dan akan dibenarkan.” Ya, begitulah sifat arus informasi. Suatu hal yang kita anggap tabuh pada walnya akan menjadi suatu hal yang lumrah dan dianggap biasa jika hal itu disajikan berulang kali. Sungguh sangat membahayakan. Jika kita tidak meneliti suatu berita, maka tidak menutup kemungkinan kita akan menjadi korban berita informasi.

Syaikh  Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: Ayat  tersebut menunjukkan dua hal yaitu:
1.    Berita yang dibawa orang fasik harus diteliti benar dustanya terlebih dahulu.
2.    Ahlu usul mempunyai dasar bahwa sebuah berita dapat diterima bila dibawa oleh orang yang adil.

As-Shukhowi berkata : Ibnu Abdi Bar memandang bahwa penilaian negatif  terhadap ahlul ilmi tidaklah diterima kecuali dengan argumen yang jelas. Apabila penilaian negatif tersebut disertai dengan unsur permusuhan maka penilaian itu tidak diterima (Fathghul Mughits III: 328)

Siapakah Orang Fasiq yang Dimaksud?
Muhammad Shalih bin Fauzan Al-Fauzan mendefinisikan ‘Fasiq’ dengan ‘al-khuruj an thaatillah’. Yaitu keluar dari ketaatan kepada Allah. Suatu titik dimana terjadi kegersanagn iman pada diri seorang muslim. Ibnu Katsier di dalam tafsirnya menyebut fasiq sebagai ‘al-ma’ashi’ atau orang yang melakukan kemaksiatan. Sedangkan As-Sa’di mengartikan, “Seseorang yang pernah melakukan dosa besar dan seringkali melakukan dosa kecil.”

Sudah jelaslah siapa orang fasiq itu. Saat titik iman kita berada di titik lemah keimanannya, kita bisa dicap sebagai orang fasiq. Karena kita hanyalah orang biasa yang tak lepas dari dosa. Kewaspadan terhadap suatu kebenaran berita pun harus kita tumbuhkan sejak kini,karena tidak menutup kemungkinan, orang-orang yang membawakan berita tengah berada dalam kegersangan iman.

Belajar dari Periwayatan Hadits Bukhari
Lepaskan dulu fakta kebobrokan media kita. Kita meluncur ke zamannya Bukhari sejenak, mengambil hikmah dari apa yang pernah dilakukannya.
Ada sebanyak 7275 hadits terdapat di Shahih Bukhari, Bukhari memilihnya dari 600.000 hadits yang dihafalnya. Semua ini karena beliau sangat teliti dalam menerima periwayatan hadits. Beliau memberikan syarat khusus dalam periwayatan seorang rawi hadits, yaitu seorang perawi harus  melihat dan sekaligus mendengar secara bersamaan. Ini adalah satu syarat disamping syarat tsiqah (terpercaya), ‘adalah (adil), dhabth (kuat hafalan), Itqan (profesional), ‘ilm (tahu benar), wara’ (jauh diri dari maksiat, dosa, dan syubhat).

Dan tidaklah al-Bukhari meletakkan suatu hadist dalam kitabnya, kecuali beliau pasti mandi bersuci sebelum itu kemudian shalat dua rakaat. Beliau mulai menulis kitabnya dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dan beliau tidak tergesa-gesa mengeluarkannya untuk manusia sebelum menyelesaikannya. Akan tetapi beliau berulang kali menelitinya dengan mengulang-ulangnya serta memperbaikinya. Oleh karena itu beliau menyusunnya sampai tiga kali hingga keluar dalam bentuk sekarang ini.

Kita berandai, seandainya pewarta kita seperti Imam Bukhari yang teliti itu, kita tidak perlu lagi resah mendengar pemberitaan tentang Islam.

Followers

Silahkan mengambil artikel yang ada di blog ini asal mencantumkan sumbernya.BUKU CATATAN MEDIA. Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 BUKU CATATAN MEDIA. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top